Ekonomi Hijau dan Pemerintahan Bersih

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Sonny Mumbunan.

Saat ini green economy atau ekonomi hijau menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menanggulangi dampak perubahan iklim yang terjadi, sebab makin nyata bahwa kita perlu pemikiran ekonomi yang beda dari pemikiran ekonomi biasa ataupun aliran-aliran yang tidak jelas. Sekarang sudah jelas bahwa dunia menuju pada kebutuhan akan penyelamatan baik dari segi kesadaran lingkungan terhadap perubahan iklim maupun pengertian ekonomi yang menunjang pertumbuhan ekonomi. Jadi, apa itu green economy?

Green economy seperti tersirat dari namanya, ekonomi yang hijau. Artinya ada warna lain yang kemudian dijadikan perbandingan. Ekonomi hijau kurang lebih adalah jawaban dari ekonomi coklat. Jadi dulu ekonominya adalah ekonomi coklat yang memproduksi banyak karbon, penggunaan energinya juga tidak efisien, tetapi secara sosial tidak cukup inklusif yaitu tidak melibatkan orang banyak dalam proses pengambilan keputusan, karena ekonomi pada prinsipnya adalah proses pengambilan keputusan. Ekonomi hijau berusaha mendorong sebuah perekonomian yang relatif rendah karbon, energinya lebih efisien, dan secara sosial lebih melibatkan banyak orang.

 

Apa itu ekonomi rendah karbon?

Sebenarnya itu juga terkait pada penggunaan energi. Kalau kita naik mobil maka kita memproduksi banyak karbon. Itu relevan karena karbon menjadi gas emisi yang naik ke atmosfir dan mendorong terjadinya perubahan iklim.

 

Jadi intinya adalah satu pemikiran ekonomi yang akan membantu kita menghindari perubahan iklim yang terlalu cepat. Apakah ada dimensi sosialnya selain dimensi alamnya?

Betul. Jadi, ada perubahan juga dalam diskusi tentang persoalan lingkungan. Dulu itu dianggap belum sebagai persoalan sosial, kemudian saat ini atau beberapa waktu belakangan ini relatif mulai diterima bahwa emisi atau perubahan iklim itu disebabkan tindakan manusia. Kalau di tingkat itu sudah diterima maka kita mengatakan bahwa persoalannya itu dibuat oleh manusia dan cara mengatasinya juga bisa dilakukan oleh manusia.

Jadi, ekonomi digambarkan sebagai suatu hasil keputusan, termasuk keputusan masyarakat, dan diharapkan keputusannya mengarah kepada dunia yang menjauhkan diri dari perubahan iklim, dunia yang lebih hijau. Itu terlihat sebagai tujuan yang baik. Lalu, mengapa ada orang yang tidak ingin mendekatkan diri kepada ekonomi hijau?

Jawabannya banyak. Antara lain, efeknya belum bisa diapresiasi, belum bisa dirasa. Misalnya, bagaimana tindakan saya berpengaruh bagi perubahan iklim. Orang naik mobil atau menggunakan alat elektronik yang kalau sendiri mungkin dampaknya tidak cukup terasa, tapi ketika dilakukan secara bersamaan menjadi terasa, dia punya dampak yang besar. Ekonom menyebutnya sebagai persoalan kolektif (collective action problem). Jadi berpindah atau beralih ke perilaku rendah karbon agak susah juga karena saya kira itu nature manusia. Apa kita tunggu bencana dulu? Saya tidak tahu, tapi ada kendala psikologis untuk berpindah. Antara lain, ada problem ekonomi dan politik yang membuat misalnya negara-negara maju begitu susah beralih. Mereka banyak janjinya, tetapi ketika diminta komitmennya begitu susah untuk masuk ke ekonomi yang lebih hijau.

 

Jadi ekonomi hijau akan menguntungkan sebagian besar masyarakat masa depan kita. Lalu, siapa yang mendapatkan keuntungan ekonomi yang belum hijau?

Saya kira sekelompok orang diuntungkan dan memang persoalannya juga dari isu-isu lingkungan. Namun dampaknya itu tidak bisa langsung dikasih batas, tidak bisa didemarkasi secara langsung, sehingga problemnya adalah kalau terjadi persoalan lingkungan maka siapa penyebabnya tidak bisa ditelusuri. Misalnya, Anda melempar batu ke saya maka saya bisa mengatakan, “Oh Anda yang melempar batu.” Kalau menyebut contoh pertanggungjawaban hukumnya juga jelas.

 

Kalau emisi karbon di negara-negara Utara, yaitu Eropa atau Amerika Utara, menyebabkan emisi jauh lebih besar akibat penggunaan energinya, maka tidak bisa kita mengatakan siapa orang per orangnya. Jadi ada persoalan juga untuk penentuan hal-hal seperti itu. Namun kalau kita melihat kelompok-kelompoknya tentu industri, manufaktur, dan pabrik mobil cukup diuntungkan. Walaupun ada tren baru juga untuk mobil seperti mulai bergerak ke produksi mobil yang rendah karbon.

 

Begitu banyak yang berkepentingan melawan green economy yaitu industri dan sektor ekonomi tertentu. Lalu sebaliknya, apa motivasi yang bisa dipakai untuk mengajak orang mengembangkan ekonomi hijau di luar motif altruistik, motif yang nyatanya?

Betul. Sekarang yang berkembang adalah gagasan menggunakan insentif, jadi dia sedikit melampaui altruisme itu. Kalau dulu orang yang memproduksi atau menciptakan kerusakan lingkungan maka dia harus membayar apa yang disebut sebagai poluter pay principal. Yang sekarang kita kenal dengan REDD, skema pengurangan emisi dari deforestasi dan penurunan degradasi hutan, maka logikanya adalah siapa yang menjaga hutan diberi kompensasi. Jadi bukan dihukum, tapi sekarang diberikan insentif.

 

Kalau di Indonesia, orang yang menjaga hutan diberikan insentif oleh masyarakat. Apakah Indonesia mempunyai cukup uang untuk menyediakan insentif tersebut?

Ada beberapa mekanisme. Ketika kita bisa melihat untung atau manfaat dari menjaga hutan, menyerap karbon, atau kemudian tidak menghancurkan ekosistem hutan, maka orang bisa melihat, “Oh ini ada service, ada layanan ekosistem yang berguna.” Sekarang, siapa yang menikmati kegunaan itu? Itu karena banyak pengaturan kearifan lokal yaitu masyarakat setempat, tetapi ketika peyerapan karbon yang global maka masyarakat seluruh dunia juga menikmati.

 

Yang berkembang sekarang adalah ketika mulai dilihat hubungan antara untung dan faedah, termasuk di dalamnya siapa yang memproduksi faedah itu dan siapa yang menanggung biaya produksi faedah itu, maka dimungkinkan mekanisme kompensasi. Misalnya, sekarang Norwegia mau memberi uang bagi orang Indonesia untuk menjaga hutan di Kalimantan dan di Aceh.

Banyak orang bertanya mengapa pemerintah Norwegia mau memberikan grant sampai US$ 1 miliar untuk membantu Indonesia. Bahkan dalam selentingan murahan dikatakan, siapa yang untung nih karena satu miliar banyak sekali dan siapa yang kebagian? Kemudian, dari sisi lain kita ingat pada 2009 sewaktu Presiden SBY bicara di Pittsburgh, AS mengenai target dalam mengurangi karbon dari hutan-hutan. Itu menjadi berita dunia. Berita dunianya disusul belum lama ini bahwa pemerintah Norwegia mengatakan kemajuannya mengecewakan. Jelas di Indonesia ada yang good guy dan bad guy, ada yang mau memajukan dan ada yang mau menahan. Terus dunia ikut melihat mengapa Indonesia ada di panggung dunia dalam green economy, sedangkan dalam soal lain tidak diperhatikan seperti banyak sekali kejelekan di Indonesia yang tidak terlalu diperhatikan oleh dunia?

Pertama, soal mengapa Indonesia penting. Secara global, emisi karbon sekitar 20% berasal dari deforestasi dan degradasi hutan (data UNFCCC). Jadi, bukan 20% emisi karbon secara global berasal dari deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. Besaran emisi karbon Indonesia dari deforestasi dan degradasi hutan cuma satu fraksi dari 20 % tersebut. Sebagai keterangan, secara global besaran emisi karbon Indonesia yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan adalah bervariasi. Untuk seluruh emisi gas rumah kaca sendiri (termasuk CO2), Indonesia menyumbang sekitar 4,5 sampai 5 % dari emisi gas rumah kaca secara global per tahun (data 2005).

 

Emisi deforestasi Indonesia 20% dari seluruh dunia. Bukankah itu jumlah yang besar?

Betul, dan Indonesia salah satu di bagian 20% itu. Jadi Indonesia ada di posisi yang penting, sehingga menjadi masuk akal mengapa negara-negara maju ingin bekerja sama dengan Indonesia untuk hal itu. Kedua, mengapa Indonesia? Ada banyak persoalan. Tentu kalau kita frame pertanyaan seperti itu akan kecewa dengan Indonesia. Tapi saya melihat, ini berlangsung di kerja sama REDD Indonesia dengan Norwegia, Indonesia juga mempunyai orang baik.

 

Apakah banyak orang baik tersebut?

Banyak orang baik, dan juga ada kelompok, ada lembaga, bahkan adaperson yang dianggap baik oleh sejumlah orang lain. Misalnya, pemerintah Norwegia menyalurkan dana ke Indonesia melalui UKP4. Jadi tetap adachampion-champion yang bisa dijadikan jalan masuk untuk menangani persoalan-persoalan besar seperti perubahan iklim. Pemerintah Norwegia melakukannya juga dengan negara lain seperti Ghana dan Brazil, yang mempunyai persoalan seperti kita, tapi dia fokus di emisi karena potensi yang begitu besar.

 

Orang baik di Indonesia sebetulnya mayoritas, hanya elite politiknya saja yang mungkin sebaliknya. Orang baik di Indonesia mendapat support dari orang baik di dunia. Bagaimana cara kita untuk meyakinkan orang yang melakukan polusi dan merusak hutan, walaupun waktu mulainya dia tidak sadar, bisa ikut sadar mendukung green economy?

Kalau dia pengusaha maka yang dilihat memang insentifnya dulu. Insentif ada macam-macam. Tidak harus tax. Misalnya untuk kelapa sawit, jika dia masih menggunakan teknologi atau cara penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan, maka bisa diberikan insentif supaya perusahaan kelapa sawit itu beralih ke Sustainable Palm Oil (SPO).

 

Oh, apakah ada Sustainable Palm Oil?

Sudah ada mekanisme Sustainable Palm Oil, tetapi baru sedikit sekali perusahaan yang melakukan ini. Dari sekitar 400-an perusahaan, baru 16 perusahaan yang menjalankan itu. Sebagai keterangan, dari 400-an perusahaan anggota GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) baru 16 yang punya sertifikat RSPO – Roundtable on Sustainable Palm Oil (Data RSPO, 2009).

 

Apakah itu karena jenis pohonnya berbeda, atau prosesnya berbeda, atau lainnya?

Ada macam-macam, tapi termasuk bagaimana mekanisme pembukaan lahan memperhatikan keanekaragaman hayati dan seterusnya. Kalau kemudian produk mereka diekspor ke Eropa Barat, sedangkan di Eropa Barat tidak menerima kelapa sawit yang melakukan forest encroachment. Itu menjadi insentif sangat nyata bagi pengusaha, sehingga dia akan mengubah perilakunya, “Saya harus memproduksi kelapa sawit yang berkelanjutan praktek-prakteknya.”

 

Apakah konsumen kelapa sawit di Indonesia banyak yang seperti itu?

Saya tidak tahu persis, tapi masih lebih besar yang ada di luar negeri.

 

Oh, kalau yang di luar negeri tidak mau membeli maka perusahaan kelapa sawit di sini akan merana juga, betulkah begitu?

Betul.

 

Apakah di bidang akademis Anda sekarang, yaitu Research Center for Climate Change di Universitas Indonesia, green economysudah mayoritas di antara ilmiawan atau masih perlu sosialisasi?

Jangankan di ilmu alam yang sains secara keseluruhan, dalam ilmu ekonomi sendiri terdapat perbedaan interpretasi dan debat tentang green economy. Tetapi saya kira perdebatan itu niatnya baik, hanya tinggal kita menggunakan apa instrumen yang efektif untuk menangani persoalan dunia saat ini. Misalnya, apakah pengurangan emisi yang dilakukan saat ini sudah cukup untuk mencegah perubahan iklim lebih fatal atau belum. Jadi, perdebatannya adalah seperti itu. Ada kelompok yang mengatakan harus lebih ditekan lagi emisinya.

 

Masalah green economy ini agak panjang, sama seperti masalah kebersihan pemerintahan dari korupsi juga jangka panjang, dan sering dikait-kaitkan. Apakah ada hubungan antara pemerintahan yang bersih dan pemerintahan yang mendukung green economy?

Oh iya, sangat lekat kaitannya. Itu karena green economy, seperti saya sebutkan tadi, antara lain harus social inclusive atau melibatkan banyak orang. Sedangkan secara definisi pemerintahan tidak bersih menutup dirinya dari perlibatan atas banyak orang. Sekali masyarakat atau pihak yang relevan untuk pengambilan putusan dilibatkan, maka dia akan mengatakan bahwa kami ingin ini dan tidak ingin itu. Ada deliberasi, ada konsensus bersama, dan konsensus bersama bisa bertentangan dengan kelompok yang menginginkan pemerintahan yang tidak bersih. Jadi, dia bertolak belakang tapi sangat erat kaitannya.

sumber : http://www.perspektifbaru.com/wawancara/845

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s