TAWURAN PELAJAR (BI-10-10-12)

Tawuran pelajar. Kata -kata ini sudah ada sejak dulu kala hingga kini. Herannya di era zaman modern ketika para pelajar umumnya  sudah mengkesampingkan perkelahian fisik dengan lebih fokus mengejar impian dan cita-cita dengan belajar bersungguh-sungguh mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk bekal masa depan, atau lebih suka mengapresiasikan dirinya lewat seni, misalnya ikut idol-idolan, lomba kreativitas remaja, ikut olimpiade sains dan teknologi, olahraga  dan lain sebagainya tapi kok tawuran masih saja ada?

Diantara pembaca semasa menjadi pelajar mungkin ada yang pernah terlibat tawuran. Saya sendiripun juga pernah mengalaminya semasa sekolah.  Saya masih ingat ketika sekolah kami diserang oleh puluhan anak STM dengan melempari sekolah kami pakai batu, kami siswa laki-laki tanpa ada komando berkumpul mengatur strategi untuk keluar menyerang, namun dicegah para guru. Untung saja masyarakat sekitar membantu dan mengusir anak-anak STM tersebut! Masalahnya menurut berita yang beredar salah seorang siswi  sekolah kami ke senggol motor anak STM, lalu anak cowok sekolah kami yang melihat menghentikan anak STM tersebut  dan dipukuli.  Anak STM tersebut mungkin tidak terima, Siangnya dia dan teman-temannya datang rame-rame melempari sekolah kami dengan batu.

Beberapa tahun kemudian saya mendapat kabar anak sekolah kami dan anak sekolah STM tersebut semacam terjadi perang dingin “dendam yang tak pernah usai”.  Saya masih mendapat cerita dari adik-adik kelas ketika ada reunian, bahwa masih sering terjadi perkelahian dengan anak-anak STM tersebut di luar sekolah. Namun belakangan sudah tidak ada lagi ketika masing-masing pihak sekolah dengan bantuan tokoh masyarakat sekitar memediasi siswa antar sekolah melakukan perdamaian  dengan  rutin mengadakan pertandingan olahraga tahunan antar masing-masing sekolah.

Penyebab tawuran antar pelajar  ini pada umumnya  adalah adanya sejarah turun-turun tawuran antar sekolah.  Di jakarta pada periode 1980-an, SMA 7 Gambir, Jakarta, terlibat konflik dengan STM Boedi Oetomo Pejambon, semenjak itu sering terjadi tawuran antar sekolah ini. Kemudian, pada awal tahun 1990-an, SMA 7 dipindahkan ke wilayah Karet Pejompongan untuk memutus tawuran dengan STM Boedi Oetomo. Kasus yang sama banyak terjadi di berbagai kota di Indonesia.  Namun masih banyak yang tanpa penyelesaian sehingga tawuran terus terjadi.

Menurut data Komnas Perlindungan Anak, jumlah tawuran pelajar tahun ini sebanyak 339 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang. Tahun sebelumnya, jumlah tawuran antar-pelajar sebanyak 128 kasus. Kasus terakhir aksi tawuran antarpelajar SMAN 70 dan SMAN 6 yang menewaskan Alawi (15) serta dua anak yang luka berat yang belum diketahui identitasnya.

Langkah preventif yang harus dilakukan Dinas Pendidikan adalah melakukan penyelidikan dan evaluasi ke setiap sekolah-sekolah. Sekolah -sekolah yang ada dendam dan sering tawuran dilakukan mediasi dengan bantuan tokoh masyarakat setempat.  Begitu juga dengan pihak sekolah terkait, bila ada isu-isu pelajar sekolahnya berkonflik dengan sekolah lain harus segera dilakukan upaya damai, jangan dibiarkan!

Pihak Dinas pendidikan juga bisa memasukkan sekolah-sekolah yang sering tawuran ke buku hitam, jika dalam jangka waktu tertentu masih saja tawuran, maka sekolah-sekolah tersebut ditutup. Bagi pihak sekolah yang terlibat bisa membuat peraturan bagi yang terlibat tawuran dikeluarkan dari sekolah dan siswa yang bersangkutan tidak boleh lagi melanjutkan sekolah di kota tersebut baik di negeri maupun swasta. Peraturan yang memang “kurang adil” ini harus didukung untuk memutus rantai tawuran.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah sekolah-sekolah yang bertikai melakukan perdamaian dengan mengadakan “jalan sehat damai bersama” dengan menyertakan keluarga masing-masing dengan melibatkan pihak pemerintah,  tokoh masyarakat, sponsor dan sebagainya. Acara-acara seperti itu juga bisa diisi dengan lomba-lomba yang menyenangkan dan diagendakan setiap tahun.

Terakhir  bagi orangtua yang akan menyelokahkan anaknya carilah informasi mengenai sekolah yang akan dimasuki, jika sekolah tersebut punya latar belakang tawuran antar sekolah dan masih berlanjut, sebaiknya hindari memasukkan anak ke sekolah tersebut. Carilah sekolah yang tidak bermasalah. Orangtua juga musti mengawasi pergaulan sang anak baik dilingkungan tempat tinggal maupun sekolahnya.

Semoga Damai pelajar Indonesiaku!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s