“Ekonomis, Efektif, & Efisien”

Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali dihadapkan dengan kata-kata ekonomis, efektif, dan efisien. Kita pasti sering mendengar kata-kata tersebut bahkan turut serta menggunakannya. Pertanyaan yang sering timbul di benak kita mungkin mengenai perbedaan dari 3 kata diatas. Kata-kata diatas memiliki pengertian yang hampir mirip, tetapi maknanya berbeda. Di bawah ini saya akan coba untuk membandingkan makna dan pengertian ekonomis,efektif, dan efisien dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa akuntansi

Pertama saya akan mengulas kata “ekonomis”. Ekonomis itu adalah suatu tindakan/perilaku dimana kita dapat memperoleh input (barang atau jasa) yang mempunyai kualitas terbaik dengan tingkat harga yang sekecil mungkin. Dari pengertian diatas ada 2 unsur yang sangat penting, yaitu sumber daya (biaya) dan input (barang atau jasa). Individu atau korporasi yang ekonomis selalu memilih barang atau jasa dengan harga yang murah dan kualitas yang baik. Dari sekilas pengertian diatas kita dapat melihat bahwa barang yang ekonomis itu bukan merupakan barang murahan atau barang asal jadi.

Berikut saya akan memberikan contoh tentang perilaku ekonomis. Perusahaan Komodo Grup membuka lowongan untuk seorang akuntan. Beberapa hari kemudian ada 2 orang akuntan yang melamar ke perusahaan ini. Akuntan yang pertama bernama Gerrard yang merupakan lulusan s1 dengan IP cumlaude dari salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Pada saat wawancara kerja, Gerrard meminta gaji sebesar Rp 3.000.000 per bulan. Akuntan yang kedua bernama Luis Suarez yang merupakan lulusan s1 dengan IP pas-pasan dari salah satu perguruan tinggi swasta yang akreditasnya buruk. Pada saat wawancara kerja, Suarez meminta gaji sebesar Rp 3.200.000 per bulan. Manajemen personalia perusahaan yang baik pasti akan memilih Gerrard karena selain biaya/cost lebih murah, kualitasnya pun lebih baik dan ini merupakan tindakan yang ekonomis.

Kesimpulannya adalah ekonomis atau tidaknya barang atau jasa yang kita pakai/beli tersebut sangat ditentukan oleh seberapa berkualitas barang/jasa tersebut dari berbagai pilihan yang ada. Kualitas dahulu kemudian harga/cost. Dalam beberapa kesempatan pun, manajemen perusahaan / individu harus mampu memperhitungkan oppurtunity cost dalam rangka pelaksanaan kegiatan secara ekonomis.

Selanjutnya saya akan coba membahas tentang kata efisiensi. Efisiensi merupakan suatu tindakan dimana kita / korporasi dapat menghasilkan output terbaik dengan input seminimal mungkin. Contoh, untuk membuat martabak yang baik hanya diperlukan 3 kg tepung terigu, Individu yang efisien hanya menggunakan 3 kg tepung terigu tidak lebih dan tidak kurang. Dalam kata efisien ini terdapat 2 unsur yang sangat penting, yaitu input dan output. Individu atau manajemen yang efesien selalu memikirkan tentang bagaimana caranya menghasilkan output dengan kualitas yang baik dengan input yang digunakan dengan sesuai takaran.

Terakhir saya akan membahas tentang kata efektif. Efektif adalah suatu tindakan dimana kita / korporasi dapat menhasilkan output dengan outcome terbaik. Output yang kita hasilkan harus bermanfaat bagi kita maupun orang lain. Contoh, roti yang dihasilkan oleh perusahaan roti harus mempunyai cita rasa dan kadar gizi yang baik sehingga dapat dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam kata efektif ini terdapat 2 unsur yang sangat penting, yaitu output dan outcome.

Dari penjelasan singkat diatas mungkin teman-teman sudah mengerti sedikit tentang perbedaan ekonomis,efisiensi,dan efektif. Nah, pertanyaan sekarang adalah bagaimana hubungan antara ketiganya. Ketiga kata ini sangat berhubungan. Kinerja suatu instansi , perusahaan, ataupun individu pertama dapat dilihat dengan tingkat ekonomis dalam penggunaan sumber daya dalam rangka penggunaan input kemudian input yang ada ini apakah digunakan secara efisien dalam menghasillkan output dan yang terakhir apakah output yang dihasilkan ini sudah efektif sehingga bermanfaat bagi pengguna maupun produsen. Efektif ini merupakan tujuan paling utama karena percuma saja barang yang harganya murah tetapi hasilnya jelek sehingga tidak bermanfaat.

Contoh dari hubungan antara kata ekonomis, efisiensi, dan efektif adalah sebagai berikut, Dalam pembuatan roti tawar dibutuhkan beberapa tahap. Tahap pertama adalah pengadaan tepung terigu. Pada tahap ini berlaku prinsip ekonomis. Perusahaan yang ekonomis akan memilih tepung terigu yang terbaik dengan harga yang semurah mungkin. Tahap kedua adlaah pembuatan roti tawar. Pada tahap ini berlaku prinsip efisiensi. Perusahaan yang efisien akan menggunakan tepung terigu tadi dengan hemat sesuai takaran untuk menghasilkan output berupa roti tawar yang baik. Tahap akhir yang merupakan tahap yang paling penting adalah pendistribusian roti tawar ini kepada masyarakat. Pada tahap akhir ini berlaku prinsip efektif. Perusahaan yang efektif akan mampu menjual roti dengan kualitas baik kepada para konsumen. Tahap terakhir dibilang paling penting karena percuma saja khan bisa menghasilkan roti,tapi roti tersebut tidak bisa dijual kepada publik karena kualitasnya yang tidak baik.

sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/03/17/ekonomis-efektif-efisien/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

mengurai green economy

Dalam sejarah kontemporer Indonesia, tepatnya setelah Orde Baru berkuasa, pembangunan ekonomi mulai digalakkan dengan lebih terencana. Indonesia pun terbuka luas bagi investasi dunia.

Semua teknologi pembangunan dengan mudahnya didatangkan dari luar negeri. Alhasil, pabrik-pabrik dengan mesin canggih mulai bermunculan dan kekayaan alam Indonesia mulai dieksploitasi, akhirnya Indonesia pun memilih fase industrialisasi.

Sudah tentu ada harga mahal yang harus dibayar atas pilihan itu, mengingat pertumbuhan industri ternyata tidak selalu berdampak positif. Diakui atau tidak, pembangunan industri kita selama ini adalah pembangunan yang mengerikan bagi masyarakat banyak. Bukan saja karena rutin merusak lingkungan alam, tetapi juga merusak kehidupan sosial masyarakat, jauh dari rasa keadilan dan minim kontribusi bagi masyarakat.

Sebagai contoh, industri kelapa sawit. Industri ini sering kali dinilai sebagai salah satu biang dari banyaknya kerusakan hutan di Kalimantan dan Sumatera. Selain itu, industri sawit sering pula dituding sebagai pengekspor asap ke negeri tetangga. Tetapi, yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana kontribusi industri kelapa sawit? Ironis sekali bila dikaitkan dengan nasib para petani kelapa sawit yang belum sejahtera, padahal kerusakan alamnya sangatlah luar biasa. Mungkin industri ini lebih berpihak pada kesejahteraan pemodalnya semata.

Contoh lain yang tidak kalah parahnya adalah industri pertambangan batu bara. Disinyalir proses penggalian sampai pembuangan limbah dari pertambangan telah meninggalkan jejak kerusakan hutan di Kalimantan. Fakta mengatakan bahwa 80 persen produksi batu bara tersebut dijual ke luar, hanya lima persen untuk Kalimantan, sisanya untuk listrik di Bali dan Jawa. Ini ironis sekali, karena listrik biarpet pun masih terjadi di Kalimantan daerah sumber batu bara. Padahal alam, barang galian, dan hutan telah rusak, tetapi kontribusi bagi warganya tak sebanding.

Lalu apa dampak dari itu semua bagi manusia? Tentunya dampak yang paling nyata adalah mengancam kelangsungan hidup manusia sendiri. Kelangsungan bumi pun terancam karena selalu digali, dirusak, dan bahkan terkadang dengan cara-cara yang tidak bertanggung jawab hingga akhirnya melahirkan bencana. Padahal kita ketahui bersama bahwa bumi merupakan satu-satunya planet yang masih bisa dihuni oleh manusia.

Melihat ancaman yang begitu besarnya, muncullah gagasan untuk menerapkan green economy. Gagasan tentang green economy bila dilihat dari namanya memang merupakan sebuah istilah yang sangat baik. Seminar dan penyuluhan tentang konsep ini acapkali dilakukan baik oleh pemerintah, perguruan tinggi, atau NGO, tentu saja dengan maksud untuk mengedukasi pelaku ekonomi dan masyarakat.

Sebenarnya konsep green economy ialah manifestasi dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Green economy muncul sebagai suatu lompatan ideal untuk meninggalkan praktik-praktik ekonomi yang mementingkan keuntungan jangka pendek berbasis eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan yang berlebihan, hingga akhirnya mewariskan berbagai permasalahan yang mendesak untuk ditangani (Aziz, 2011).

Green economy diharapkan dapat berperan untuk menggantikan model ekonomi “penjahat” yang boros, timpang, dan tidak ramah lingkungan. Green economy dibangun atas dasar kesadaran akan pentingnya ekosistem yang menyeimbangkan aktivitas pelaku ekonomi dengan ketersediaan sumber daya. Selain itu, pendekatan green economy dimaksudkan untuk mensinergikan tiga nilai dasar yakni: profit, people, dan planet. Pandangan ini mengimbau agar para pelaku ekonomi bukan hanya memaksimalkan keuntungan semata, tetapi juga harus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat serta turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Esensi dari green economy ialah mengarah pada rekonfigurasi bisnis yang lebih baik pada investasi alam. Green economy diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim. Sehingga pada saat yang bersamaan, usaha ini akan mengurangi emisi gas rumah kaca, menghasilkan sampah dalam jumlah kecil, penghematan energi, dan meminimalisasi limbah-limbah industri.

Negara-negara maju pun kini mewanti-wanti Indonesia yang masih memiliki alam dan hutannya relatif masih baik untuk dapat dilestarikan. Bahkan negara maju sampai rela mengeluarkan dana untuk konservasi alam. Sayangnya, para pelaku ekonomi di Indonesia terkadang tidak menggubris. Malahan beberapa pihak cenderung menyerang ajakan tersebut, karena dirasa terlalu mengintervensi Indonesia untuk tidak memanfaatkan kekayaan alamnya, dan menyalahkan negara maju karena telah menghancurkan hutannya ratusan tahun yang lalu.

Mengimplementasikan green economy

Untuk mengimplementasikan green economy tidak mungkin dilakukan secara parsial, tetapi harus dilakukan secara simultan. Pertama, dunia industri. Tatkala akan memproduksi suatu produk, sebaiknya memikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari kegiatan produksi tersebut. Tanggung jawab perusahaan tidaklah terbatas sampai di depan pintu gerbang pabrik saja. Jauh lebih besar dari itu, mulai dari hulu hingga ke hilirnya.

Efektivitas dan efisiensi dari bahan dasar, produk, dan limbah menjadi penting, sedapat mungkin diperhatikan guna berkelanjutan dan mengubah pola ekonomi yang linier menjadi siklus. Sehingga industri tidak lagi dituduh menjadi biang keladi permasalahan lingkungan dan pengisap sumber daya. Di samping produksi yang berkelanjutan, industri juga harus menginternalisasi biaya lingkungan dan sosial.

Kedua, masyarakat. Pertama-tama masyarakat harus diberikan pemahaman tentang green economy. Sebab masih banyak masyarakat yang bersikap tidak tahu atau tidak mau peduli akan manfaat jangka panjang sumber daya alam, sekaligus tidak peduli dengan tragedi kerusakan lingkungan yang terjadi. Maka kuncinya adalah bagaimana membuat masyarakat sadar akan ekologi.

Masyarakat merupakan konsumen dari produk-produk yang dihasilkan oleh industri. Sehingga masyarakat sedapat mungkin diajarkan untuk lebih kritis dalam memilih produk-produk yang ramah dengan lingkungan. Masyarakat juga perlu mengubah pola konsumsi sekaligus merevolusi gaya hidup yang selama ini cenderung apatis.

Ketiga, pemerintah. Beberapa waktu yang lalu Menteri Lingkungan Hidup meminta seluruh perusahaan di Indonesia menerapkan konsep green economy, langkah ini patut untuk diapresiasi. Pemerintah dan DPR sebenarnya telah mengeluarkan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sehingga tinggal diimplementasikan saja. Selain sebagai regulator, pemerintah juga berperan mengawasi penerapan konsep green economy agar alam Indonesia tidak porak-poranda.

sumber : http://www.equator-news.com/kolom/20120611/mengurai-green-economy

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ekonomi Hijau dan Pemerintahan Bersih

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Sonny Mumbunan.

Saat ini green economy atau ekonomi hijau menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menanggulangi dampak perubahan iklim yang terjadi, sebab makin nyata bahwa kita perlu pemikiran ekonomi yang beda dari pemikiran ekonomi biasa ataupun aliran-aliran yang tidak jelas. Sekarang sudah jelas bahwa dunia menuju pada kebutuhan akan penyelamatan baik dari segi kesadaran lingkungan terhadap perubahan iklim maupun pengertian ekonomi yang menunjang pertumbuhan ekonomi. Jadi, apa itu green economy?

Green economy seperti tersirat dari namanya, ekonomi yang hijau. Artinya ada warna lain yang kemudian dijadikan perbandingan. Ekonomi hijau kurang lebih adalah jawaban dari ekonomi coklat. Jadi dulu ekonominya adalah ekonomi coklat yang memproduksi banyak karbon, penggunaan energinya juga tidak efisien, tetapi secara sosial tidak cukup inklusif yaitu tidak melibatkan orang banyak dalam proses pengambilan keputusan, karena ekonomi pada prinsipnya adalah proses pengambilan keputusan. Ekonomi hijau berusaha mendorong sebuah perekonomian yang relatif rendah karbon, energinya lebih efisien, dan secara sosial lebih melibatkan banyak orang.

 

Apa itu ekonomi rendah karbon?

Sebenarnya itu juga terkait pada penggunaan energi. Kalau kita naik mobil maka kita memproduksi banyak karbon. Itu relevan karena karbon menjadi gas emisi yang naik ke atmosfir dan mendorong terjadinya perubahan iklim.

 

Jadi intinya adalah satu pemikiran ekonomi yang akan membantu kita menghindari perubahan iklim yang terlalu cepat. Apakah ada dimensi sosialnya selain dimensi alamnya?

Betul. Jadi, ada perubahan juga dalam diskusi tentang persoalan lingkungan. Dulu itu dianggap belum sebagai persoalan sosial, kemudian saat ini atau beberapa waktu belakangan ini relatif mulai diterima bahwa emisi atau perubahan iklim itu disebabkan tindakan manusia. Kalau di tingkat itu sudah diterima maka kita mengatakan bahwa persoalannya itu dibuat oleh manusia dan cara mengatasinya juga bisa dilakukan oleh manusia.

Jadi, ekonomi digambarkan sebagai suatu hasil keputusan, termasuk keputusan masyarakat, dan diharapkan keputusannya mengarah kepada dunia yang menjauhkan diri dari perubahan iklim, dunia yang lebih hijau. Itu terlihat sebagai tujuan yang baik. Lalu, mengapa ada orang yang tidak ingin mendekatkan diri kepada ekonomi hijau?

Jawabannya banyak. Antara lain, efeknya belum bisa diapresiasi, belum bisa dirasa. Misalnya, bagaimana tindakan saya berpengaruh bagi perubahan iklim. Orang naik mobil atau menggunakan alat elektronik yang kalau sendiri mungkin dampaknya tidak cukup terasa, tapi ketika dilakukan secara bersamaan menjadi terasa, dia punya dampak yang besar. Ekonom menyebutnya sebagai persoalan kolektif (collective action problem). Jadi berpindah atau beralih ke perilaku rendah karbon agak susah juga karena saya kira itu nature manusia. Apa kita tunggu bencana dulu? Saya tidak tahu, tapi ada kendala psikologis untuk berpindah. Antara lain, ada problem ekonomi dan politik yang membuat misalnya negara-negara maju begitu susah beralih. Mereka banyak janjinya, tetapi ketika diminta komitmennya begitu susah untuk masuk ke ekonomi yang lebih hijau.

 

Jadi ekonomi hijau akan menguntungkan sebagian besar masyarakat masa depan kita. Lalu, siapa yang mendapatkan keuntungan ekonomi yang belum hijau?

Saya kira sekelompok orang diuntungkan dan memang persoalannya juga dari isu-isu lingkungan. Namun dampaknya itu tidak bisa langsung dikasih batas, tidak bisa didemarkasi secara langsung, sehingga problemnya adalah kalau terjadi persoalan lingkungan maka siapa penyebabnya tidak bisa ditelusuri. Misalnya, Anda melempar batu ke saya maka saya bisa mengatakan, “Oh Anda yang melempar batu.” Kalau menyebut contoh pertanggungjawaban hukumnya juga jelas.

 

Kalau emisi karbon di negara-negara Utara, yaitu Eropa atau Amerika Utara, menyebabkan emisi jauh lebih besar akibat penggunaan energinya, maka tidak bisa kita mengatakan siapa orang per orangnya. Jadi ada persoalan juga untuk penentuan hal-hal seperti itu. Namun kalau kita melihat kelompok-kelompoknya tentu industri, manufaktur, dan pabrik mobil cukup diuntungkan. Walaupun ada tren baru juga untuk mobil seperti mulai bergerak ke produksi mobil yang rendah karbon.

 

Begitu banyak yang berkepentingan melawan green economy yaitu industri dan sektor ekonomi tertentu. Lalu sebaliknya, apa motivasi yang bisa dipakai untuk mengajak orang mengembangkan ekonomi hijau di luar motif altruistik, motif yang nyatanya?

Betul. Sekarang yang berkembang adalah gagasan menggunakan insentif, jadi dia sedikit melampaui altruisme itu. Kalau dulu orang yang memproduksi atau menciptakan kerusakan lingkungan maka dia harus membayar apa yang disebut sebagai poluter pay principal. Yang sekarang kita kenal dengan REDD, skema pengurangan emisi dari deforestasi dan penurunan degradasi hutan, maka logikanya adalah siapa yang menjaga hutan diberi kompensasi. Jadi bukan dihukum, tapi sekarang diberikan insentif.

 

Kalau di Indonesia, orang yang menjaga hutan diberikan insentif oleh masyarakat. Apakah Indonesia mempunyai cukup uang untuk menyediakan insentif tersebut?

Ada beberapa mekanisme. Ketika kita bisa melihat untung atau manfaat dari menjaga hutan, menyerap karbon, atau kemudian tidak menghancurkan ekosistem hutan, maka orang bisa melihat, “Oh ini ada service, ada layanan ekosistem yang berguna.” Sekarang, siapa yang menikmati kegunaan itu? Itu karena banyak pengaturan kearifan lokal yaitu masyarakat setempat, tetapi ketika peyerapan karbon yang global maka masyarakat seluruh dunia juga menikmati.

 

Yang berkembang sekarang adalah ketika mulai dilihat hubungan antara untung dan faedah, termasuk di dalamnya siapa yang memproduksi faedah itu dan siapa yang menanggung biaya produksi faedah itu, maka dimungkinkan mekanisme kompensasi. Misalnya, sekarang Norwegia mau memberi uang bagi orang Indonesia untuk menjaga hutan di Kalimantan dan di Aceh.

Banyak orang bertanya mengapa pemerintah Norwegia mau memberikan grant sampai US$ 1 miliar untuk membantu Indonesia. Bahkan dalam selentingan murahan dikatakan, siapa yang untung nih karena satu miliar banyak sekali dan siapa yang kebagian? Kemudian, dari sisi lain kita ingat pada 2009 sewaktu Presiden SBY bicara di Pittsburgh, AS mengenai target dalam mengurangi karbon dari hutan-hutan. Itu menjadi berita dunia. Berita dunianya disusul belum lama ini bahwa pemerintah Norwegia mengatakan kemajuannya mengecewakan. Jelas di Indonesia ada yang good guy dan bad guy, ada yang mau memajukan dan ada yang mau menahan. Terus dunia ikut melihat mengapa Indonesia ada di panggung dunia dalam green economy, sedangkan dalam soal lain tidak diperhatikan seperti banyak sekali kejelekan di Indonesia yang tidak terlalu diperhatikan oleh dunia?

Pertama, soal mengapa Indonesia penting. Secara global, emisi karbon sekitar 20% berasal dari deforestasi dan degradasi hutan (data UNFCCC). Jadi, bukan 20% emisi karbon secara global berasal dari deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. Besaran emisi karbon Indonesia dari deforestasi dan degradasi hutan cuma satu fraksi dari 20 % tersebut. Sebagai keterangan, secara global besaran emisi karbon Indonesia yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan adalah bervariasi. Untuk seluruh emisi gas rumah kaca sendiri (termasuk CO2), Indonesia menyumbang sekitar 4,5 sampai 5 % dari emisi gas rumah kaca secara global per tahun (data 2005).

 

Emisi deforestasi Indonesia 20% dari seluruh dunia. Bukankah itu jumlah yang besar?

Betul, dan Indonesia salah satu di bagian 20% itu. Jadi Indonesia ada di posisi yang penting, sehingga menjadi masuk akal mengapa negara-negara maju ingin bekerja sama dengan Indonesia untuk hal itu. Kedua, mengapa Indonesia? Ada banyak persoalan. Tentu kalau kita frame pertanyaan seperti itu akan kecewa dengan Indonesia. Tapi saya melihat, ini berlangsung di kerja sama REDD Indonesia dengan Norwegia, Indonesia juga mempunyai orang baik.

 

Apakah banyak orang baik tersebut?

Banyak orang baik, dan juga ada kelompok, ada lembaga, bahkan adaperson yang dianggap baik oleh sejumlah orang lain. Misalnya, pemerintah Norwegia menyalurkan dana ke Indonesia melalui UKP4. Jadi tetap adachampion-champion yang bisa dijadikan jalan masuk untuk menangani persoalan-persoalan besar seperti perubahan iklim. Pemerintah Norwegia melakukannya juga dengan negara lain seperti Ghana dan Brazil, yang mempunyai persoalan seperti kita, tapi dia fokus di emisi karena potensi yang begitu besar.

 

Orang baik di Indonesia sebetulnya mayoritas, hanya elite politiknya saja yang mungkin sebaliknya. Orang baik di Indonesia mendapat support dari orang baik di dunia. Bagaimana cara kita untuk meyakinkan orang yang melakukan polusi dan merusak hutan, walaupun waktu mulainya dia tidak sadar, bisa ikut sadar mendukung green economy?

Kalau dia pengusaha maka yang dilihat memang insentifnya dulu. Insentif ada macam-macam. Tidak harus tax. Misalnya untuk kelapa sawit, jika dia masih menggunakan teknologi atau cara penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan, maka bisa diberikan insentif supaya perusahaan kelapa sawit itu beralih ke Sustainable Palm Oil (SPO).

 

Oh, apakah ada Sustainable Palm Oil?

Sudah ada mekanisme Sustainable Palm Oil, tetapi baru sedikit sekali perusahaan yang melakukan ini. Dari sekitar 400-an perusahaan, baru 16 perusahaan yang menjalankan itu. Sebagai keterangan, dari 400-an perusahaan anggota GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) baru 16 yang punya sertifikat RSPO – Roundtable on Sustainable Palm Oil (Data RSPO, 2009).

 

Apakah itu karena jenis pohonnya berbeda, atau prosesnya berbeda, atau lainnya?

Ada macam-macam, tapi termasuk bagaimana mekanisme pembukaan lahan memperhatikan keanekaragaman hayati dan seterusnya. Kalau kemudian produk mereka diekspor ke Eropa Barat, sedangkan di Eropa Barat tidak menerima kelapa sawit yang melakukan forest encroachment. Itu menjadi insentif sangat nyata bagi pengusaha, sehingga dia akan mengubah perilakunya, “Saya harus memproduksi kelapa sawit yang berkelanjutan praktek-prakteknya.”

 

Apakah konsumen kelapa sawit di Indonesia banyak yang seperti itu?

Saya tidak tahu persis, tapi masih lebih besar yang ada di luar negeri.

 

Oh, kalau yang di luar negeri tidak mau membeli maka perusahaan kelapa sawit di sini akan merana juga, betulkah begitu?

Betul.

 

Apakah di bidang akademis Anda sekarang, yaitu Research Center for Climate Change di Universitas Indonesia, green economysudah mayoritas di antara ilmiawan atau masih perlu sosialisasi?

Jangankan di ilmu alam yang sains secara keseluruhan, dalam ilmu ekonomi sendiri terdapat perbedaan interpretasi dan debat tentang green economy. Tetapi saya kira perdebatan itu niatnya baik, hanya tinggal kita menggunakan apa instrumen yang efektif untuk menangani persoalan dunia saat ini. Misalnya, apakah pengurangan emisi yang dilakukan saat ini sudah cukup untuk mencegah perubahan iklim lebih fatal atau belum. Jadi, perdebatannya adalah seperti itu. Ada kelompok yang mengatakan harus lebih ditekan lagi emisinya.

 

Masalah green economy ini agak panjang, sama seperti masalah kebersihan pemerintahan dari korupsi juga jangka panjang, dan sering dikait-kaitkan. Apakah ada hubungan antara pemerintahan yang bersih dan pemerintahan yang mendukung green economy?

Oh iya, sangat lekat kaitannya. Itu karena green economy, seperti saya sebutkan tadi, antara lain harus social inclusive atau melibatkan banyak orang. Sedangkan secara definisi pemerintahan tidak bersih menutup dirinya dari perlibatan atas banyak orang. Sekali masyarakat atau pihak yang relevan untuk pengambilan putusan dilibatkan, maka dia akan mengatakan bahwa kami ingin ini dan tidak ingin itu. Ada deliberasi, ada konsensus bersama, dan konsensus bersama bisa bertentangan dengan kelompok yang menginginkan pemerintahan yang tidak bersih. Jadi, dia bertolak belakang tapi sangat erat kaitannya.

sumber : http://www.perspektifbaru.com/wawancara/845

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengenal pengertian ekonomi hijau atau green economy

apa yang disebut dengan ekonomi hijau adalah perekonomian yang tidak merugikan lingkungan hidup.

Program Lingkungan PBB (UNEP; United Nations Environment Programme) dalam laporannya berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.

Dari definisi yang diberikan UNEP, pengertian ekonomi hijau dalam kalimat sederhana dapat diartikan sebagai perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.

Kemudian apa bedanya ekonomi hijau (green economy) dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development)?. Konsep ekonomi hijau melengkapi konsep pembangunan berkelanjutan. Sebagaimana diketahui prinsip utama dari pembangunan berkelanjutan adalah “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekonomi hijau merupakan motor utama pembangunan berkelanjutan.

Ekonomi Hijau (Green Economy)

Ekonomi Hijau Tema Hari Lingkungan Hidup 2012. UNEP menetapkan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012 adalah Green Economy: Does it include you?”. Dalam konteks Indonesia, tema tersebut diadaptasi sebagai Tema Hari Lingkungan Hidup Indonesia 2012 menjadi “Ekonomi Hijau: Ubah perilaku, tingkatkan kualitas lingkungan”.

Dari sini terlihat pentingnya perubahan paradigma dan perilaku untuk selalu mengambil setiap kesempatan dalam mencari informasi, belajar dan melakukan tindakan demi melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Dengan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pola hidup masyarakat modern telah membuat pembangunan sangat eksploitatif terhadap sumber daya alam dan mengancam kehidupan. Pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan produksi terbukti membuahkan perbaikan ekonomi, tetapi gagal di bidang sosial dan lingkungan. Sebut saja, meningkatnya emisi gas rumah kaca, berkurangnya areal hutan serta musnahnya berbagai spesies dan keanekaragaman hayati. Di samping itu adalah ketimpangan rata-rata pendapatan penduduk negara kaya dengan negara miskin.

Konsep ekonomi hijau diharapkan menjadi jalan keluar. Menjadi jembatan antara pertumbuhan pembangunan, keadilan sosial serta ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam. Tentunya konsep ekonomi hijau baru akan membuahkan hasil jika kita mau mengubah perilaku.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perilaku etika dalam profesi akuntansi

Akuntansi sebagai profesi dan peran akuntan

Profesi akuntansi merupakan sebuah profesi yang menyediakan jasa atestasi maupun non-atestasi kepada masyarakat dengan dibatasi kode etik yang ada. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Yang dimaksud dengan profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik. Dalam arti sempit, profesi akuntan adalah lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh akuntan sebagai akuntan publik yang lazimnya terdiri dari pekerjaan audit, akuntansi, pajak dan konsultan manajemen.

Profesi Akuntan biasanya dianggap sebagai salah satu bidang profesi seperti organisasi lainnya, misalnya Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Supaya dikatakan profesi ia harus memiliki beberapa syarat sehingga masyarakat sebagai objek dan sebagai pihak yang memerlukan profesi, mempercayai hasil kerjanya. Adapun ciri profesi menurut Harahap (1991) adalah memiliki bidang ilmu yang ditekuninya yaitu yang merupakan pedoman dalam melaksanakan keprofesiannya, memiliki kode etik sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku anggotanya dalam profesi itu, berhimpun dalam suatu organisasi resmi yang diakui oleh masyarakat/pemerintah, keahliannya dibutuhkan oleh masyarakat, dan bekerja bukan dengan motif komersil tetapi didasarkan kepada fungsinya sebagai kepercayaan masyarakat.

Persyaratan ini semua harus dimiliki oleh profesi Akuntan sehingga berhak disebut sebagai salah satu profesi. Perkembangan profesi akuntansi sejalan dengan jenis jasa akuntansi yang diperlukan oleh masyarakat yang makin lama semakin bertambah kompleksnya. Gelar akuntan adalah gelar profesi seseorang dengan bobot yang dapat disamakan dengan bidang pekerjaan yang lain. Misalnya bidang hukum atau bidang teknik.

Secara garis besar Akuntan dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Akuntan Publik (Public Accountants)
Akuntan publik atau juga dikenal dengan akuntan eksternal adalah akuntan independen yang memberikan jasa-jasanya atas dasar pembayaran tertentu. Mereka bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu kantor akuntan. Yang termasuk dalam kategori akuntan publik adalah akuntan yang bekerja pada kantor akuntan publik (KAP) dan dalam prakteknya sebagai seorang akuntan publik dan mendirikan kantor akuntan, seseorang harus memperoleh izin dari Departemen Keuangan. Seorang akuntan publik dapat melakukan pemeriksaan (audit), misalnya terhadap jasa perpajakan, jasa konsultasi manajemen, dan jasa penyusunan sistem manajemen.
2. Akuntan Intern (Internal Accountant)
Akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Akuntan intern ini disebut juga akuntan perusahaan atau akuntan manajemen. Jabatan tersebut yang dapat diduduki mulai dari Staf biasa sampai dengan Kepala Bagian Akuntansi atau Direktur Keuangan. Tugas mereka adalah menyusun sistem akuntansi, menyusun laporan keuangan kepada pihak-pihak eksternal, menyusun laporan keuangan kepada pemimpin perusahaan, menyusun anggaran, penanganan masalah perpajakan dan pemeriksaan intern.
3. Akuntan Pemerintah (Government Accountants)
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di kantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK).
4. Akuntan Pendidik
Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, dan menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi.

Seseorang berhak menyandang gelar Akuntan bila telah memenuhi syarat antara lain : Pendidikan Sarjana jurusan Akuntansi dari Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi yang telah diakui menghasilkan gelar Akuntan atau perguruan tinggi swasta yang berafiliasi ke salah satu perguruan tinggi yang telah berhak memberikan gelar Akuntan. Selain itu juga bisa mengikuti Ujian Nasional Akuntansi (UNA) yang diselenggarakan oleh konsorsium Pendidikan Tinggi Ilmu Ekonomi yang didirikan dengan SK Mendikbud RI tahun 1976.

Ekspektasi Publik.

Masyarakat pada umumnya mengatakan akuntan sebagai orang yang profesional khususnya di dalam bidang akuntansi. Karena mereka mempunyai suatu kepandaian yang lebih di dalam bidang tersebut dibandingkan dengan orang awam sehingga masyarakat berharap bahwa para akuntan dapat mematuhi standar dan sekaligus tata nilai yang berlaku dilingkungan profesi akuntan, sehingga masyarakat dapat mengandalkan kepercayaannya terhadap pekerjaan yang diberikan. Dalam hal ini, seorang akuntan dipekerjakan oleh sebuah organisasi atau KAP, tidak akan ada undang-undang atau kontrak tanggung jawab terhadap pemilik perusahaan atau publik.Walaupun demikian, sebagaimana tanggung jawabnya pada atasan, akuntan professional publik mengekspektasikannya untuk mempertahankan nilai-nilai kejujuran, integritas, objektivitas, serta pentingannya akan hak dan kewajiban dalam perusahaan

Nilai – nilai etika vs teknik akuntan/auditing.

Integritas yaitu setiap tindakan dan kata-kata pelaku profesi menunjukan sikap transparansi, kejujuran dan konsisten. Kerjasama yaitu mempunyai kemampuan untuk bekerja sendiri maupun dalam tim. Inovasi yaitu pelaku profesi mampu memberi nilai tambah pada pelanggan dan proses kerja dengan metode baru. Simplisitas yaitu pelaku profesi mampu memberikan solusi pada setiap masalah yang timbul, dan masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana.
Teknik akuntansi adalah aturan-aturan khusus yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntan yang menerangkan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.

Perilaku etika dalam pemberian jasa akuntan publik.

Dari profesi akuntan publik inilah masyarakat kreditur dan investor mengharapkan penilaian yang bebas Tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan oleh manajemen perusahaan. Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai jasa bagi masyarakat, yaitu jasa assurance (jasa profesional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan), jasa atestasi (terdiri dari audit, pemeriksaan, review, dan prosedur yang disepakati), jasa atestasi (suatu pernyataan pendapat, pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan), dan jasa nonassurance (jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang di dalamnya ia tidak
memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan, atau bentuk lain keyakinan).

Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kode etik profesi akuntansi

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari 3 bagian, yaitu Prinsip Etika, Aturan Etika, dan Interpretasi Aturan Etika.

Prinsip Etika Profesi Ikatan Akuntan Indonesia

1) Tanggung jawab profesi, yaitu dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

2) Kepentingan Publik Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka

3) Integritas, yaitu untuk memelihara clan meningkatkan kepercayaan publik, Setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

1)      Objektivitas

Setiap anggota harus menjaga obyektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

2)      Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati­hatian, kompetensi clan ketekunan, Berta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

3)      Kerahasiaan

Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kiewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

4)      Perilaku Profesional

Setiap Anggota harus berperilaku yang konsisten dalam reputasi profesi yang baik clan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

5)      Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas clan obyektivitas.

Aturan Etika

1)      Independensi, Integritas, Obyektivitas

Independensi, yaitu dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen didalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance). Integritas dan Objectivitas, yaitu dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus mempertahankan integritas dan objektivitas, harus bebas dari benturan kepentingan (conflict of interst) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan (mensubordinasikan) pertimbangannya kepada pihak lain.

2.   Standar Umum dan Prinsip Akuntansi

Standar Umum yang terdiri dari :

a)      Kompetensi profesional, yaitu di mana nggota KAP hanya boleh melakukan pemberian jasa profesional yang secara layak (reasonable) diharapkan dapat diselesaikan dengan kompetensi profesional.

b)      Kecermatan dan keseksamaan profesional, yaitu di mana nggota KAP wajib melakukan pemberian jasa profesional dengan kecermatan dan keseksamaan profesional.

c)      Perencanaan dan supervisi, yaitu di mana nggota KAP wajib merencanakan dan mensupervisi secara memadai setiap pelaksanaan pemberian jasa profesional.

d)     Data relevan yang memadai, yaitu di mana anggota KAP wajib memperoleh data relevan yang memadai untuk menjadi dasar yang layak bagi simpulan atau rekomendasi sehubungan dengan pelaksanaan jasa profesionalnya.

Prinsip Akuntansi

Dalam prinsip akuntansi anggota KAP tidak diperkenankan menyatakan pendapat atau memberikan penegasan bahwa laporan keuangan atau data keuangan lain suatu entitas disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau menyatakan bahwa ia tidak menemukan perlunya modifikasi material yang harus dilakukan terhadap laporan atau data tersebut agar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku, apabila laporan tersebut memuat penyimpangan yang berdampak material terhadap laporan atau data secara keseluruhan dari prinsip-prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh badan pengatur standar yang ditetapkan IAI. Dalam keadaan luar biasa, laporan atau data mungkin memuat penyimpangan seperti tersebut diatas. Dalam kondisi tersbeut, anggota KAP dapat tetap mematuhi ketentuan dalam butir ini selama anggota KAP dapat menunjukkan bahwa laporan atau data akan menyesatkan apabila tidak memuat penyimpangan seperti itu, dengan cara mengungkapkan penyimpangan dan estimasi dampaknya (bila praktis), serta alasan mengapa kepatuhan atas prinsip akuntansi yang berlaku umum akan menghasilkan laporan yang menyesatkan.

3.   Tanggung Jawab kepada Klien

Informasi Klien yang Rahasia. Anggota KAP tidak diperkenankan mengungkapkan informasi klien yang rahasia, tanpa persetujuan dari klien. Ketentuan ini tidak dimaksudkan untuk membebaskan anggota KAP dari kewajiban profesionalnya sesuai dengan aturan etika kepatuhan terhadap standar dan prinsip-prinsip akuntansi, mempengaruhi kewajiban anggota KAP dengan cara apapun untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti panggilan resmi penyidikan pejabat pengusut atau melarang kepatuhan anggota KAP terhadap ketentuan peraturan yang berlaku, melarang review praktik profesional (review mutu) seorang anggota sesuai dengan kewenangan IAI, atau menghalangi anggota dari pengajuan pengaduan keluhan atau pemberian komentar atas penyidikan yang dilakukan oleh badan yang dibentuk IAI-KAP dalam rangka penegasan disiplin anggota.

4.   Tanggungjawab kepada Rekan Seprofesi

Tanggung jawab kepada rekan seprofesi di mana anggota wajib memelihara citra profesi, dengan tidak melakukan perkataan dan perbuatan yang dapat merusak reputasi rekan seprofesi.

Komunikasi Antar akuntan Publik

Anggota wajib berkomunikasi tertulis dengan akuntan publik pendahulu bila akan mengadakan perikatan (engagement) audit menggantikan akuntan publik pendahulu atau untuk tahun buku yang sama ditunjuk akuntan publik lain dengan jenis dan periode serta tujuan yang berlainan dan akuntan publik pendahulu wajib menanggapi secara tertulis permintaan komunikasi dari akuntan pengganti secara memadai.

Perikatan Atestasi

Akuntan publik tidak diperkenankan mengadakan perikataan atestasi yang jenis atestasi dan periodenya sama dengan perikatan yang dilakukan oleh akuntan yang lebih dahulu ditunjuk klien, kecuali apabila perikatan tersebut dilaksanakan untuk memnuhi ketentuan perundang-undangan atau peraturan yang dibuat oleh badan yang berwenang.

5.   Tanggungjawab dan Praktik Lain

Perbuatan dan Perkataan yang Mendiskreditkan di mana anggota tidak diperkenankan melakukan tindakan dan/atau mengucapkan perkataan yang mencemarkan profesi.

Iklan, Promosi, dan Kegiatan Pemasaran Lainnya di mana anggota dalam menjalankan praktik akuntan publik diperkenankan mencari klien melalui pemasangan iklan, melakukan promosi pemasaran dan kegiatan pemasaran lainnya sepanjang tidak merendahkan citra profesi.

Interpretasi Etika

Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya. Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya. Kepatuhan Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan sukarela anggota. Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya. Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang ditetapkan oleh badan pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau menggunakan laporannya untuk mengevaluasi kepatuhan klien terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tanggungjawab Akuntan Keuangan dan Akuntan Manajemen

Etika dalam akuntansi keuangan dan manajemen merupakan suatu bidang keuangan yang merupakan sebuah bidang yang luas dan dinamis. Bidang ini berpengaruh langsung terhadap kehidupan setiap orang dan organisasi. Ada banyak bidang yang dapat di pelajari, tetapi sejumlah besar peluang karir tersedia di bidang keuangan. Manajemen keuangan dengan demikian merupakan suatu bidang keuangan yang menerapkan prinsip-prinsip keuangan dalam sebuah organisasi untuk menciptakan dan mempertahankan nilai melalui pengambilan putusan dan manajemen sumber daya yang tepat

Akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan dengan penyiapan laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham, kreditor,pemasok, serta pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam akuntansi keuangan adalah persamaan akuntansi di mana aktiva adalah harta yang dimiliki suatu perusahaan digunakan untuk operasi perusahaan dalam upaya untuk menghasilkan pendapatan. Sedangkan modal yaitu selisih antara aktiva dikurang hutang. Akuntansi keuangan berhubungan dengan masalah pencatatan transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan berbagai laporan berkala dari hasil pencatatan tersebut. Laporan ini yang disusun untuk kepentingan umum dan biasanya digunakan pemilik perusahaan untuk menilai prestasi manajer atau dipakai manajer sebagai pertanggungjawaban keuangan terhadap para pemegang saham. Hal penting dari akuntansi keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan aturan- aturan yang harus digunakan didalam pengukuran dan penyajian laporan keuangan untuk kepentingan eksternal. Dengan demikian, diharapkan pemakai dan penyusun laporan keuangan dapat berkomunikasi melalui laporan keuangan ini, sebab mereka menggunakan acuan yang sama yaitu SAK. SAK ini mulai diterapkan di Indonesia pada 1994, menggantikan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984.

Akuntansi manajemen adalah disiplin ilmu yang berkenaan dengan penggunaan informasi akuntansi oleh para manajemen dan pihak-pihak internal lainnya untuk keperluan penghitungan biaya produk, perencanaan, pengendalian dan evaluasi, serta pengambilan keputusan. Definisi akuntansi manajemen menurut Chartered Institute of Management Accountant, yaitu Penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan penafsiran informasi yang digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan pengendalian, pembuatan keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan kepada pemilik dan pihak luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset.

Bagian integral dari manajemen yang berkaitan dengan proses identifikasi penyajian dan interpretasi/penafsiran atas informasi yang berguna untuk merumuskan strategi, proses perencanaan dan pengendalian, pengambilan keputusan, optimalisasi keputusan, pengungkapan pemegang saham dan pihak luar, pengungkapan entitas organisasi bagi karyawan, dan perlindungan atas aset organisasi. Akuntansi Manajemen (Managerial Accounting) berhubungan dengan pengidentifikasian dan pemilihan yang terbaik dari beberapa alternatif kebijakan atau tindakan dengan menggunakan data historis atau taksiran untuk membantu pimpinan.

Persamaan akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen prinsip akuntansi yang diterima baik dalam akuntansi dalam akuntansi keuangan kemungkinan besar juga merupakan prisnsip pengukuran yang Releven dalam akuntansi manajemen dan menggunakan sistem informasi operasi yang sama sebagai bahan baku untuk menghasilkan informasi yang disajikan kepada pemakainya.

Etika Akuntansi Keuangan

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan aturan-aturan yang harus digunakan didalam pengukuran dan penyajian laporan keuangan untuk kepentingan eksternal.

Persamaan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen
  • Prinsip akuntansi yang lazim diterima baik dalam akuntansi keuangan kemungkinan besar juga merupakan prinsip pengukuran yang relevan dalam akuntansi manajemen
  • Menggunakan Sistem informasi operasi yang sama sebagai bahan baku untuk menghasilkan informasi yang disajikan kepada pemakainya
No. Unsur Perbedaan Akuntansi Keuangan Akuntansi Manajemen
1. Dasar pencatatan Prinsip Akuntansi yang lazim Tidak terikat dengan Prinsip Akuntansi yang lazim
2. Fokus Informasi Informasi masa lalu Informasi masa lalu dan masa yang akan datang.
3. Lingkup Informasi Secara keseluruhan Bagian perusahaan
4. Sifat laporan yang dihasilkan Berupa ringkasan Lebih rinci dan unsur taksiran lebih dominan.
5. Keterlibatan dalam perilaku manusia Lebih mementingkan pengukuran kejadian ekonomi Lebih bersangkutan dengan pengukuran kinerja manajemen.
6. Disiplin Sumber yang Melandasi Ilmu Ekonomi Ilmu Ekonomi dan Ilmu Psikologi Sosial.

Kriteria Standar Perilaku Akuntan Manajemen

Competence (Kompetensi)

Auditor harus menjaga kemampuan dan pengetahuan profesional mereka pada tingkatan yang cukup tinggi dan tekun dalam mengaplikasikannya ketika memberikan jasanya, diantaranya menjaga tingkat kompetensi profesional, melaksanakan tugas profesional yang sesuai dengan hukum dan menyediakan laporan yang lengkap dan transparan

Confidentiality (Kerahasiaan)

Auditor harus dapat menghormati dan menghargai kerahasiaan informasi yang diperoleh dari pekerjaan dan hubungan profesionalnya, diantaranya meliputi menahan diri supaya tidak menyingkap informasi rahasia, menginformasikan pada bawahan (subordinat) dengan memperhatikan kerahasiaan informasi, menahan diri dari penggunaan informasi rahasia yang diperoleh.

Integrity (Kejujuran)

Auditor harus jujur dan bersikap adil serta dapat dipercaya dalam hubungan profesionalnya. Meliputi menghindari konflik kepentingan yang tersirat maupun tersurat, menahan diri dari aktivitas yang akan menghambat kemampuan, menolak hadiah, bantuan, atau keramahan yang akan mempengaruhi segala macam tindakan dalam pekerjaan, mengetahui dan mengkomunikasikan batas-batas profesionalitas, mengkomunikasikan informasi yang baik maupun tidak baik, menghindarkan diri dalam keikutsertaan atau membantu kegiatan yang akan mencemarkan nama baik profesi.

Objectivity of Management Accountant (Objektivitas Akuntan Manajemen)

Auditor tidak boleh berkompromi mengenai penilaian profesionalnya karenadisebabkan prasangka, konflik kepentingan dan terpengaruh orang lain, seperti memberitahukan informasi dengan wajar dan objektif dan mengungkapkan sepenuhnya informasi relevan.

Whistle Blowing

Merupakan Tindakan yang dilakukan seorang atau beberapa karyawan untuk membocorkan kecurangan perusahaan kepada pihak lain. Motivasi utamanya adalah moral. Whistle blowing sering disamakan begitu saja dengan membuka rahasia perusahaan. Contohnya seorang karyawan melaporkan kecurangan perusahaan yang membuang limbah pabrik ke sungai.

Whistle blowing dibagi menjadi dua yaitu :

Whistle Blowing internal, yaitu kecurangan dilaporkan kepada pimpinan perusahaan tertinggi, pemimpin yang diberi tahu harus bersikap netral dan bijak, loyalitas moral bukan tertuju pada orang, lembaga, otoritas, kedudukan, melainkan pada nilai moral: keadilan, ketulusan, kejujuran, dan dengan demikian bukan karyawan yang harus selalu loyal dan setia pada pemimpin melainkan sejauh mana pimpinan atau perusahaan bertindak sesuai moral

Whistle Blowing eksternal, yaitu membocorkan kecurangan perusahaan kepada pihak luar seperti masyarakat karena kecurangan itu merugikan masyarakat, motivasi  utamanya adalah mencegah kerugian bagi banyak orang, yang perlu diperhatikan adalah langkah yang tepat sebelum membocorkan kecurangan terebut ke masyarakat, untuk membangun iklim bisnis yang baik dan etis memang dibutuhkan perangkat legal yang adil dan baik

Creative Accounting

Creative Accounting adalah semua proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk di dalamnya standar, teknik, dll) dan menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan (Amat, Blake dan Dowd, 1999). Pihak-pihak yang terlibat di dalam proses creative accounting, seperti manajer, akuntan (sepengetahuan saya jarang sekali ditemukan kasus yang melibatkan akuntan dalam proses creative accounting karena profesi ini terikat dengan aturan-aturan profesi), pemerintah, asosiasi industri, dll.

Creative accounting melibatkan begitu banyak manipulasi, penipuan, penyajian laporan keuangan yang tidak benar, seperti permainan pembukuan (memilih penggunaan metode alokasi, mempercepat atan menunda pengakuan atas suatu transasksi dalam suatu periode ke periode yang lain).

Watt dan Zimmerman (1986), menjelaskan bahwa manajer dalam bereaksi terhadap pelaporan keuangan digolongkan menjadi 3 buah hipotesis :

1. Bonus Plan Hyphotesis (Perilaku dari seorang manajer sering kali dipengaruhi dengan pola bonus atas laba yang dihasilkan. Tindakan yang memacu para manajer untuk mealkaukan creative accounting, seringkali dipengaruhi oleh pembagian besaran bonus yang tergantung dengan laba yang akan dihasilkan. Pemilik perusahaan umumnya menetapkan batas bawah, sebagai batas terendah untuk mendapatkan bonus. Dengan teknik seperti ini, para manajer akan berusaha menaikkan laba menuju batas minimal ini. Jika sang pemilik juga menetapkan bats atas atas laba yang dihasilkan, maka manajer akan erusaha mengurangi laba sampai batas atas dan mentransfer data tersebut pada periode yang akan dating. Perilaku ini dilakukan karena jika laba melewati batas atas tersebut, manajer tidak akan mendapatkan bonus lagi)

2. Debt Convenant Hyphotesis (Merupakan sebuah praktek akuntansi mengenai bagaimana manajer menyikasi perjanjian hutang. Sikap yang diambil oleh manjer atas adanya pelanggaran atas perjanjian hutang yang jatuh tempo, akan berupaya menghindarinya degan memilih kebijakan-kebijakan akuntansi yang menguntungkan dirinya)

3. Political Cost Hyphotesis (Sebuah tindakan yang bertujuan untuk menampilkan laba perusahan lebih rendah lewat proses akuntansi. Tindakkan ini dipengaruhi oleh jika laba meningkat, maka para karyawan akan melihat kenaikan aba tersebut sebagai acuan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui kenaikan gaji. Pemerintah pun melihat pola kenaikan ini sebagai objek pajak yang akan ditagih)

Contoh kasus : Perusahaan PT. ABC lebih menggunakan metode FIFO dalam metode arus persediaannya. Karena dari sisi FIFO akan menghasilkan profit lebih besar dibandingkan LIFO, atau Average. Hal ini dilakukan karenaAsumsi Inflasi Besar. FIFO dapat dianggap sebagai sebuah pendekatanyang logis dan realistis terhadap arus biaya ketika penggunaan metodeidentifikasi khusus tidak memungkinkan atau tidak praktis.

Fraud Accounting

Fraudsebagai suatu tindak kesengajaan untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara tidak wajar dan salah menyajikan fakta untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, fraud adalah penipuan yang disengaja. Hal ini termasuk berbohong, menipu, menggelapkan dan mencuri. Yang dimaksud dengan penggelapan disini adalah merubah asset/kekayaan perusahaan yang dipercayakan kepadanya secara tidak wajar untuk kepentingan dirinya.

Fraud Auditing

Karakteristik kecurangan Dilihat dari pelaku fraud auditing maka secara garis besar kecurangan bisa dikelompokkan menjadi 2 jenis :

1. Oleh pihak perusahaan, yaitu manajemen untuk kepentingan perusahaan (di mana salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from fraudulent financial reporting, untuk menghindari hal tersebut ada baiknya karyawan mengikuti auditing workshop dan fraud workshop) dan pegawai untuk keuntungan individu (salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva)

2. Oleh pihak di luar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra usaha, dan pihak asing yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Kecurangan pelaporan keuangan biasanya dilakukan karena dorongan dan ekspektasi terhadap prestasi pengubahan terhadap catatan akuntansi atau dokumen pendukung yang merupakan sumber penyajian kerja manajemen. Salah saji yang timbul karena kecurangan terhadap pelaporan keuangan lebih dikenal dengan istilah irregularities (ketidakberesan). Bentuk kecurangan seperti ini seringkali dinamakan kecurangan manajemen (management fraud), misalnya berupa manipulasi, pemalsuan, atau laporan keuangan. Kesengajaan dalam salah menyajikan atau sengaja menghilangkan (intentional omissions) suatu transaksi, kejadian, atau informasi penting dari laporan keuangan, untuk itu sebaiknya anda mengikuti auditing workshop dan fraud workshop.

Salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva kecurangan jenis ini biasanya disebut kecurangan karyawan (employee fraud). Salah saji yang berasal dari penyalahgunaan aktiva meliputi penggelapan aktiva perusahaan yang mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum(ada baiknya karyawan mengikuti seminar fraud dan seminar auditing). Penggelapan aktiva umumnya dilakukan oleh karyawan yang menghadapi masalah keuangan dan dilakukan karena melihat adanya peluang kelemahan pada pengendalian internal perusahaan serta pembenaran terhadap tindakan tersebut. Contoh salah saji jenis ini adalah penggelapan terhadap penerimaan kas, pencurian aktiva perusahaan, mark-up harga dan transaksi tidak resmi.

Contoh Kasus : Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO). Penelitian COSO menelaah hampir 350 kasus dugaan kecurangan pelaporan keuangan oleh perusahaan-perusahaan publik di Amerika Serikat yang diselidiki oleh SEC. Diantaranya adalah :

1. Kecurangan keuangan memengaruhi perusahaan dari semua ukuran, dengan median perusahaan memiliki aktiva dan pendapatan hanya di bawah $100juta.

2 Berita mengenai investigasi SEC atau Departemen Kehakiman mengakibatkan penurunan tidak normal harga saham rata-rata 7,3 persen.

3. Dua puluh enam persen dari perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam kecurangan mengganti auditor selama periode yang diteliti dibandingkan dengan hanya 12 persen dari perusahaan-perusahaan yang tidak terlibat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment